Situs 'White House' Memakai Aplikasi Open Source CMS Drupal

Situs resmi Gedung Putih di www.whitehouse.gov beralih sepenuhnya ke platform berbasis open source. Langkah tersebut diambil Pemerintah AS karena ingin menyajikan layanan yang interaktif di halaman webnya dengan menekan ongkos.

Mulai saat ini situs tersebut berjalan dengan content management system (CMS) berbasis open source Drupal dan server mesin pencarian Apache Solr. Drupal dipilih karena dinilai paling cocok untuk menyediakan fitur-fitur web 2.0 dan jaringan sosial seperti blog, komentar, polling, dan membuat profil user.

"Kami ingin memperbaiki tools yang digunakan ribuan orang yang datang ke whitehouse.gov agar dapat berhubungan lebih dekat dengan pejabat White House dan satu sama lain," ujar Nick Shapiro, juru bicara White House seperti dilansir Informationweek.

Ia mengatakan saat ini situs White house memiliki platform teknologi yang menyediakan ruang aspirasi lebih besar. "Ini merupakan teknologi mutakhir dan pemerintah akan berpartisipasi di dalamnya," ujarnya.

Pengembangan situs tersebut melibatkan Acquia, perusahaan yang didirikan Dries Buytaert, yang juga pembuat Drupal. Vendor lainnya yang terlibat dalam proyek ini adalah Akamai General Dynamics, Terremark untuk web hosting, dan Phase II sebagai pengembang Drupal.

Menurut Dries, pilihan beralih ke Drupal sudah sangat tepat. Di satu sisi pemerintah AS ingin menekan ongkos. Namun di sisi lain butuh melakukan perubahan dengan cepat. "Drupal menyediakan semuanya secara moduler. Drupal menyediakan kombinasi antara tradisional CMS dengan fitur-fitur sosial yang memungkinkan komunikasi dan partisipasi terbuka sesuai tujuan pemerintahan Obama," katanya.

Bukan kali ini saja pemerintah AS memilih solusi open source. Departemen Pertahanan, Departemen Perdagangan, dan Departemen Pendidikan dan Kantor Layana Publik lebih dulu menggunakannya.

Namun, tak sepenuhnya open source menjadi pilihan. Situs pemantau stimulus www.recovery.gov sebelumnya juga memakai Drupal namun beralih ke Microsoft Share Point. Alasannya, Drupal dinilai terlalu rumit sehingga malah menghambat kinerja operasional. (Kompas)

0 komentar: